JAKARTA:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan BUMN pangan untuk menanam kedelai, sehingga bisa mengurangi ketergantungan Indonesia akan impor komoditas tersebut.
Kepala Negara mengatakan setelah langkah jangka pendek diambil dengan menghapus tarif bea masuk impor kedelai dari 5% menjadi 0% hingga akhir tahun, akan dilakukan langkah jangka menengah dan panjang dengan meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri.
"Jangka menengah dan panjang mari pikirkan untuk meningkat produksi dalam negeri. Sudah saatnya BUMN pangan kita sediakan lahan yang cukup untuk bisa memproduksi kedelai," kata Presiden Yudhoyono saat membuka rapat kabinet di Kantor Presiden yang ada di Istana Kamis, 26 Juli 2012.
Yudhoyono menilai petani lebih memilih komoditas di luar kedelai yang memiliki harga jual tinggi, seperti beras dan pangan lain.
Langkah jangka pendek, menengah dan panjang tersebut, ujarnya, ditempuh pemerintah, menyusul melonjaknya harga kedelai yang diakibatkan kekeringan luar biasa yang terjadi di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain, dan kondisinya dinilai terburuk dalam waktu 50 tahun terakhir.
Sementara, tambahnya, permintaan terus meningkat. Ditambah dengan kompleksitas perekonomian dunia yang sedang tidak baik, situasi geopolitik, serta perubahan iklim.
Kenaikan harga dinilai telah melebihi kondisi normal yang biasanya terjadi, yaitu di saat bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran. Kenaikan kedelai saat ini lebih dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas global.
"Yang sangat dirasakan sekarang kedelai tahun lalu harga berkisar Rp
5.000-6.000 per kilogram tahun lalu, sekarang Rp 7.000- Rp 8.000 ini tentu memberikan persoalan pada perajin tahu dan tempe utamanya," kata SBY.
SBY mengharapkan dengan membebaskan bea masuk impor kedelai, diharapkan bisa menciptakan stabilisasi harga.
Sementara jangka menengah dan panjang yang akan menggenjot produksi kedelai, untuk memperkecil total impor yang dilakukan Indonesia.
"Setiap tahun kita meng konsumsi kedelai 2,2 juta ton kedelai, sedangkan produksi kita hanya berkisar 800.000-850.000 ton kedelai.
[selisih] cukup besar," kata SBY. (Faa)

Showing 0 - 0 of 0 comments