Ad-close

Bisnis Indonesia - Bisnis.com


PENJUALAN FIN KOMODO Cruiser Naik 25%

Compact_finkomodomobil

CIMAHI: PT FIN Komodo Teknologi optimistis pasar kendaraan offroad bisa terus dikembangkan, menyusul penjualan mobil FIN Komodo Cruiser pada semester I/2012 meningkat 25% dari periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 50 unit.

Direktur Utama PT FIN Komodo Teknologi Ibnu Susilo mengatakan penjualan kendaraan jenis Offroad Utility Vehicle memiliki pasar tersendiri dan trennya terus meningkat.

"Kebanyakan pembelinya berasal dari masyarakat yang memiliki hobi berpetualang di alam bebas dan perusahaan-perusahaan baik untuk keperluan kerja maupun kegiatan bisnis," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (24/7/2012).

Menurutnya, pasar kendaraan Offroad Utility Vehicle di kelasnya hampir tidak ada kompetitor sehingga potensi bisnisnya sangat besar untuk dikembangkan. Harga jual dari kendaraan yang sempat diproduksi oleh kalangan pelajar SMKN 8 Bandung ini sekitar Rp70 juta/unit untuk wilayah Kota Cimahi. Untuk luar Kota Cimahi, harga jualnya ditambah dengan ongkos kirim sesuai dengan asal daerah.

Dia menjelaskan pembuatan FIN Komodo Cruiser dimulai dengan riset pada 2005, dan dikonseptualisasikan melalui desain pada 2006. Sedangkan tes generasi pertama pada 2008 dan tes generasi keempat pada 2011.

Dia mengklaim kemampuan kendaraan tangguh di medan hutan, jarak tempuh 100km dapat dilalui dalam 6 jam dengan konsumsi bahan bakar sekitar 5 liter. Sedangkan kapasitas tangki 20 liter, sehingga dapat digunakan didalam hutan selama 7 x 4 jam atau 4 hari perjalanan siang hari.

"Kestabilan kendaraan ini pada medan offroad yang ekstrem tidak diragukan, karena didesain menggunakan perhitungan matematika persamaan keseimbangan yang akurat setiap komponen dan manufakturnya."

FIN Komodo juga dapat digunakan untuk angkutan barang dengan kapasitas 250 Kg, sehingga dapat juga berfungsi sebagai kendaraan niaga. "Kami akan mengembangkan Komodo bertenaga listrik. diharapkan segera selasai dalam waktu dekat," ujarnya.

Namun, katanya, proyek mobil listrik nasional harus mempersiapkan industri komponen di dalam negeri. "Seharusnya mobil nasional segala sesuatunya produksi dalam negeri dan tidak ada yang bergantung pada impor. Nah mobil listrik yang digunakan Pak Dahlan itu dari mana komponennya?" ujarnya.

Menurut dia, proses awal menyiapkan infrastruktur hingga produksi mobil listrik itu membutuhkan waktu setidaknya hingga 5 tahun mulai dari riset sampai pengujian.

"Kalau FIN Komodo 100% merupakan produksi nasional. Hal itu karena sudah mampu menguasai bahan baku untuk pembuatan mobil. Sisanya untuk penggerak masih bergantung pada impor."

Dia menjelaskan di Indonesia tidak ada industri otomotif yang mampu menguasai pembuatan mobilnya mengandalkan sumber lokal. Oleh karenanya, wajar apabila dirinya mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam mengembangkan mobil listrik sebagai proyek mobil nasional.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Ina Primina menjelaskan proyek mobil nasional apapun itu namanya memang patut didukung. Hanya persoalannya, keseriusan pemerintah dalam memproduksi mobil itu harus ditunjang oleh kebijakan.

"Kalau memang serius harusnya ada target yang jelas termasuk mempersiapkan infrastruktur untuk suku cadang dan lain sebagainya," katanya.

Dia mengingatkan, proyek mobil nasional jangan sekadar upaya pencitraan penguasa saat ini. Dicontohkannya, proyek prestisius yang dilakukan PT Dirgantara Indonesia di era Habibie berkuasa begitu luar biasa. Namun, saat yang bersangkutan sudah tidak duduk dikekuasaan, proyek itu mati suri.(bas)

Related News

Latest News

Featured News

Discuss: PENJUALAN FIN KOMODO Cruiser Naik 25%

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Ad-close