JAKARTA: Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan menegaskan akibat minimnya informasi tidak banyak yang tahu Indonesia merupakan salah satu negara sukses dalam menjalankan kredit mikro, selain Bolivia yang menurut dunia internasional paling sukses.
”Masyarakat memang lupa bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki institusi perbankan mikro paling sukses di dunia. Bahkan bank yang bergerak di keuangan mikro tahan terhadap krisis dan mencetak laba terbesar secara nasional,” katanya kepada wartawan hari ini, Kamis (20/9).
Dia memberi contoh, di Indonesia ada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang saat ini telah menjadi laboratoriun keuangan mikro dunia maupun sebagai penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar nasional.
”BRI juga menjadi bank sebagai pencetak laba terbesar nasional,” tutur Sjarifuddin Hasan seraya menambahkan ini merupakan bagian dari peranan perbankan pada program financial inclusion yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Seperti halnya Bank BRI, di Bolivia juga memiliki bank yang konsepnya sama degan BRI, karena layanannya terkonsentrasi pada keuangan mikro, yakni Bancosol. Bank mikro ini juga menjadi bank paling provitable di Bolivia.
Choirul Djamhari, Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, menambahkan perbankan atau lembaga keuangan mikro yang sukses setidaknya memenuhi dua kriteria untuk bisa bertahan bahkan berlanjut (sustainability).
”Pertama, ekspansi kreditnya yang besar. Kedua, sumber pendanaan yang kuat sehingga banyak lembaga keuangan perbankan lebih memfokuskan diri pada pelayanan kredit,” papar Choirul.
Menurut dia, ada empat jenis lembaga keuangan mikro. Pertama, lembaga keuangan yang bisa menyalurkan kredit mikro tetapi tidak boleh menghimpun dana masyarakat. Kedua, lembaga keuangan mikro yang bagus dalam menyalurkan kredit tetapi buruk dalam memobilisasi dana publik.
Misalnya, Grameen Bank di Bangladesh. Grameen Bank mengandalkan sumber pendanaan dana non komersil seperti hibah dari luar negeri yang membuat ketersediaan dananya sangat berat.
Ketiga, bank atau lembaga keuangan mikro yang jago menghimpun dana masyarakat tetapi tidak buruk dalam menyalurkan kredit. Misalnya di India ada Regional Rural Banks dan di China terdapat China Rural Credit Cooperatives.
Keempat adalah lembaga keuangan yang gagal dalam dua hal yakni menyediakan kredit mikro (bersubsidi) dan tidak punya kemampuan menghimpun dana publik yang bersifat komersil.
Bank BRI sepanjang tahun kebanjiran orang asing yang datang belajar keuangan mikroI. Sakin banyaknya, maka dibuat unit khusus menangani orang asing belajar keuangan mikro. Ada dua produk BRI yang menjadi primadona yakni Simpedes dan Kupedes.
Simpedes untuk simpanan atau tabungan sedangkan Kupedes untuk pinjaman usaha dan sebagainya. Eksposurnya keduanya selalu naik tajam, dan saat ini nasabah kedua produk itu mencapai lebih dari 30 juta orang di Indonesia.(bas)

Showing 0 - 0 of 0 comments