Keluarga musisi Gilang Ramadhan, pemilik Gilang Ramadhan Studio Band (GRSB), isterinya Shanaz Haque dan ketiga anak perempuannya hadir pada acara 250 Ibu ABC Dapur Peduli memasak dan menyiapkan paket buka bersama untuk ribuah dhuafa di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (1/8/12).
Shanaz lebih banyak tampil pada acara demo memasak bersama chef Yeni Ismayani dengan resep masakan yang cocok untuk keluarga Indonesia. Sedangkan Gilang bersama kelompok perkusinya tampil menghibur untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa.
Selama Ramadhan, kata ayah tiga anak itu, ia sering tampil di mal, masjid, atau pesantren. “Saya menggabungkan musik perkusi dan marawis,” kata Gilang sebelum mengadakan pementasan tersebut.
Selain tampil sebagai musisi, Gilang juga membina lembaga pendidkan Gilang Ramadan Studio Band (GRSB). Peminatnya, kata Gilang, banyak anak kecil usia 1-5 tahun. Hal itu terlihat dari banyaknya jumlah anak-anak yang mengikuti pendidikan seni musik di GRSB. “Sekarang komposisi jumlah anak-anak mencapai sekitar 50%,” kata Gilang yang ditemui pada Rabu (1/8/12).
Pada kelompok anak-anak, ia tidak hanya mengajarkan seni musik saja, juga mengajarkan bersosialisasi. “Saya mengajarkan seni musik dalam bentuk berkelompok, sehingga anak-anak juga belajar besosialisasi dengan sesama temannya. Anak-anak belajar rhythm, empati dan toleransi,” kata Gilang yang kini mengoperasikan 30 cabang GRSB yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian di Swedia beberapa tahun yang lalu, katanya, belajar drum pada usia anak-anak dapat meningkatkan IQ 7 point, karena dengan belajar seni dapat meningkatkan fungsi otak.
Dari sekian banyak jumlah anak didiknya, katanya Gilang, hanya sekitar 15% yang digiring untuk menjadi profesional.
“Konsep mengajarkan seni pada anak-anak kecil adalah untuk meningkatkan kreativitas anak dalam berkesenian,” kata Gilang yang kini jumlah anggota GRSB kini sudah mencapai sekitar 15.000 keluarga.
Sang drammer itu mengembangkan GRSB yang baru beroperasi sejak 5 tahun yang lalu itu dengan sistem kerjasama. Ia akan menambah cabang sesuai kebutuhan dan tidak mempunyai target jumlah cabang yang akan dioperasikannya.
Namun, dia merencanakan akan memperluas jaringannya sampai ke tingkat kabupaten-kabupaten, karena peminat seni itu tidak hanya berada di kota-kota besar saja. Ia meng upgrade guru-guru SD di daerah untuk mengajar di lembaganya, karena anak-anak kecil tidak butuh teknis.
Selain anak-anak, kata pria kelahiran Bandung 1963 itu, ibu-ibu juga ada yang belajar musik yang tujuannya bukan untukmenjadi profesional tapi lebih untuk ketentraman hidup. “Orang akan lebih tenang bermain musik, karena musik juga dapat sebagai terapi,” kata Gilang. (if)

Showing 0 - 0 of 0 comments