Ad-close

Bisnis Indonesia - Bisnis.com

  • June 20, 2013

EDITORIAL BISNIS: Kasus Korupsi Jangan Tertutup Karena Musibah Sukhoi

Compact_angie

Di tengah hiruk pikuknya perselisihan di ka­­­langan elite, ada dua hal yang menyatukan masyarakat Indonesia yaitu sepak bola dan musibah.


Masih lekat dalam ingatan kita ketika pertan­dingan final sepak bola Sea Games 2011, In­­do­nesia melawan Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta.

Itu adalah hari yang sangat bersejarah bagi pencinta olahraga si kulit bundar. Maklum, sejak 20 tahun lalu Indonesia tak pernah meraih predikat juara.


Euforia final sepak bola di mana-mana, mulai dari stasiun kereta api, terminal bus, kampus, kafe hingga perkantoran dan hotel berbintang lima.

Umumnya mereka menaruh harapan besar ke­­­pada tim asuhan Rahmad Darmawan itu meskipun akhirnya kandas. Namun, yang masih lekat dalam ingatan, betapa kita bersatu dalam membela Merah Putih.  

Kini, tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Su­­perjet 100 di lereng Gu­­nung Salak Bogor pada 9 Mei 2012 juga menyatukan kita dalam perasaan dan kepedulian.

Lihatlah betapa tim search and rescue (SAR) di bawah komando Ba­­­­dan SAR Nasional (Basarnas) bersama tim gabungan yang terdiri dari Palang Merah Indonesia, un­­­sur TNI yang di­­wa­­kili Kopassus, Korp Marinir dan Paskhas, unsur kepolisian yang mengutus Bri­mob sampai organisasi masyarakat dan para pendaki gunung bahu-membahu me­­nunaikan tugas kemanusiaan.

Musibah itu juga menjadi mo­­­­­mentum untuk mem­­per­­­­­kuat kelembagaan otoritas bandara, meningkatkan infrastruktur, sekali­gus membentuk badan na­­vigasi udara. Maklum, selama ini kelayakan infrastruktur ban­­­­da­­­ra Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara lain.

Kita sepakat dengan suara DPR yang men­­­desak pe­­­me­­rintah segera membentuk badan pelayanan navigasi yang me­­­­­­rupakan bagian penting dalam me­­­­­­mastikan keselamatan penum­pang.

Ada tiga penyebab musibah kecelakaan Sukhoi Superjet 100 itu:
Pertama, pesa­­wat yang berkaitan dengan tek­­nologi dan pe­­­meliharaan. Kedua, pilot yang ber­­­­­hubungan dengan kemampuan.
Ketiga, soal infrastruktur termasuk bandara, ATC, lampu, pengatur la­­­lu lintas udara, dan cuaca.

Dari sekian banyak pendapat para elite, pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla patut dicermati. Ketua PMI ini mengatakan banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan karena ini me­­­nyangkut jiwa manusia dan juga bisnis. Jika ma­­­salah ini belum selesai, maka persoalan bisnis pun harus ditunda dulu.

Namun, bukan berarti musibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang banyak menyedot energi, kita menunda pekerjaan rumah lain, termasuk penegakan hukum. Begitu gencarnya pemberitaan mengenai musibah itu jangan sampai menutupi persoalan besar yang belum tuntas.

Perkara suap cek perjalanan terkait dengan pe­­­milihan Deputi Gubernur Senior Bank Indo­ne­sia 2004 yang telah menghukum Nunun Nurbaeti 2 tahun 6 tahun penjara, belum mengungkapkan siapa penyandang dananya. Dalam kasus ini ma­­sih ada tersangka lain yaitu Miranda Swaray Goeltom.

Begitu pun kasus Angelina Sondakh yang menjadi tersangka kasus suap proyek Wisma Atlet Sea Games dan pembahasan anggaran Kemen­diknas.

Kasus hukum ini seolah tenggelam oleh pemandangan akibat musibah yang sangat me­­­nyentuh ha­­­­ti. Kita masih  menunggu pekerjaan ru­­­mah Ko­­­misi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang belum selesai.
 

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

 

Related News

Latest News

Featured News

Discuss: EDITORIAL BISNIS: Kasus Korupsi Jangan Tertutup Karena Musibah Sukhoi

Showing 0 - 0 of 0 comments

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

* Redaksi


Ad-close