Di tengah hiruk pikuknya perselisihan di kalangan elite, ada dua hal yang menyatukan masyarakat Indonesia yaitu sepak bola dan musibah.
Masih lekat dalam ingatan kita ketika pertandingan final sepak bola Sea Games 2011, Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta.
Itu adalah hari yang sangat bersejarah bagi pencinta olahraga si kulit bundar. Maklum, sejak 20 tahun lalu Indonesia tak pernah meraih predikat juara.
Euforia final sepak bola di mana-mana, mulai dari stasiun kereta api, terminal bus, kampus, kafe hingga perkantoran dan hotel berbintang lima.
Umumnya mereka menaruh harapan besar kepada tim asuhan Rahmad Darmawan itu meskipun akhirnya kandas. Namun, yang masih lekat dalam ingatan, betapa kita bersatu dalam membela Merah Putih.
Kini, tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di lereng Gunung Salak Bogor pada 9 Mei 2012 juga menyatukan kita dalam perasaan dan kepedulian.
Lihatlah betapa tim search and rescue (SAR) di bawah komando Badan SAR Nasional (Basarnas) bersama tim gabungan yang terdiri dari Palang Merah Indonesia, unsur TNI yang diwakili Kopassus, Korp Marinir dan Paskhas, unsur kepolisian yang mengutus Brimob sampai organisasi masyarakat dan para pendaki gunung bahu-membahu menunaikan tugas kemanusiaan.
Musibah itu juga menjadi momentum untuk memperkuat kelembagaan otoritas bandara, meningkatkan infrastruktur, sekaligus membentuk badan navigasi udara. Maklum, selama ini kelayakan infrastruktur bandara Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara lain.
Kita sepakat dengan suara DPR yang mendesak pemerintah segera membentuk badan pelayanan navigasi yang merupakan bagian penting dalam memastikan keselamatan penumpang.
Ada tiga penyebab musibah kecelakaan Sukhoi Superjet 100 itu:
Pertama, pesawat yang berkaitan dengan teknologi dan pemeliharaan. Kedua, pilot yang berhubungan dengan kemampuan.
Ketiga, soal infrastruktur termasuk bandara, ATC, lampu, pengatur lalu lintas udara, dan cuaca.
Dari sekian banyak pendapat para elite, pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla patut dicermati. Ketua PMI ini mengatakan banyak hal lain yang perlu dipertimbangkan karena ini menyangkut jiwa manusia dan juga bisnis. Jika masalah ini belum selesai, maka persoalan bisnis pun harus ditunda dulu.
Namun, bukan berarti musibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 yang banyak menyedot energi, kita menunda pekerjaan rumah lain, termasuk penegakan hukum. Begitu gencarnya pemberitaan mengenai musibah itu jangan sampai menutupi persoalan besar yang belum tuntas.
Perkara suap cek perjalanan terkait dengan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004 yang telah menghukum Nunun Nurbaeti 2 tahun 6 tahun penjara, belum mengungkapkan siapa penyandang dananya. Dalam kasus ini masih ada tersangka lain yaitu Miranda Swaray Goeltom.
Begitu pun kasus Angelina Sondakh yang menjadi tersangka kasus suap proyek Wisma Atlet Sea Games dan pembahasan anggaran Kemendiknas.
Kasus hukum ini seolah tenggelam oleh pemandangan akibat musibah yang sangat menyentuh hati. Kita masih menunggu pekerjaan rumah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang belum selesai.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
-
06:08 - BURSA EROPA: Indeks Stoxx 600 Jatuh Ke Posisi Terendah Tahun Ini
-
05:38 - BURSA WALL STREET: Indeks S&P 500 Turun Terpanjang Dalam Sebulan
-
01:55 - BLACK BOX SUKHOI: Ini Rute Perjalanan Panjang Kotak Hitam Setelah Ditemukan
Showing 0 - 0 of 0 comments