JAKARTA: Grup jazz LLW (baca: double L double U) terdiri dari Indra Lesmana, Barry Likumahuwa dan Sandy Winarta yang baru merilis album pertama mereka “Love, Life, Wisdom” akan tampil malam ini Kamis (14/6) di GoetheHaus mulai pk.19.30.
Album pertama mereka yang baru saja diluncurkan mendapat kritik dan apresiasi sangat baik di kancah musik jazz di Indonesia. Hal ini terbukti berhasil menembus peringkat 18 sebagai Most Downloaded Albums di iTunes dan LLW menjadi perwakilan Indonesia pertama yang tampil di klub jazz prestisius, Blue Note di Tokyo-Jepang.
Indra Lesmana telah memulai karir musiknya pada usia sangat muda ketika bakat musik dan improvisasinya ditemukan oleh almarhum ayahnya, Jack Lesmana, yang adalah seorang multi instrumentalis legenda jazz Indonesia.
Dibesarkan di Sydney, Australia, Indra belajar di New South Wales State Conservatorium of Music. Dia pergi ke Los Angeles pada 1985 untuk menandatangani kontrak rekaman dengan Zebra / MCA untuk merilis dua album debut di AS disebut "No Standing" dan "For Earth and Heaven."
Singlenya "No Standing“ (dari album “No Standing”) dan "Stephanie" (dari album “For Earth and Heaven”) menjadi hits dan masuk daftar puncak Billboard Charts untuk Jazz di AS dan menjadi nomor satu di tangga lagu radio. Leonard Feather, seorang wartawan jazz Inggris menulis mengenai Indra Lesmana dalam artikelnya di Downbeat, “anak ajaib jazz Indonesia.”
Sampai hari ini, Indra Lesmana telah menghasilkan lebih dari 50 album dan menulis seratus hits sejak ia merilis rekaman pertamanya pada usia 12 tahun. Dia mendedikasikan hidupnya di musik melalui kegiatannya di berbagai komunitas independen untuk memotivasi musisi muda Indonesia. Keahlian, semangat dan gerakannya membuat dia pantas menjadi ikon modern jazz Indonesia.
Sementara itu Elseos Jeberani Emanuel Likumahuwa atau lebih dikenal dengan nama Barry Likumahuwa bisa jadi telah menjadi pemain bass negeri ini yang diperhitungkan eksistensinya. Profil pemain bass muda yang ditampilkan jujur apa adanya serta betotan bassnya yang bermain di wilayah funk menjadi senjata untuk mencairkan anggapan bahwa adalah jazz musik ekslusif orang tua dan sulit untuk dinikmati.
Musisi lainnya, Sandy Winarta adalah salah satu komposer dan drummer Indonesia dengan permainan paling variatif saat ini. Perjalanan musikalnya diawali dengan mempelajari organ Electone ketika ia masih kecil. Setelah menyelesaikan SMA Sandy jatuh cinta pada drums dan memutuskan untuk meniti karir sebagai perkusionis.
Sandy belajar di Australian Institute of Music di Sydney, mengambil jurusan Drums-Performance pada 2000 dan kemudian mendapat gelar Bachelor of Music Performance pada 2004.
Setelah kembali ke Indonesia Sandy sangat beruntung karena dapat bermain bersama benyak musisi dan grup musik seperti Magenta Orchestra, Glenn Fredly, I Wayan Balawan , Tjut Nyak Deviana Quartet, Tohpati, Aminoto Kosin Big Band, Dewa Budjana, Trisum, Benny Likumahuwa, Dwiki Dharmawan World Peace Project, Roger Burns, Andy Suzuki dan Steve Thornton.
Saat ini Sandy terlibat dalam banyak lokakarya musik, mengajar, mengerjakan proyek “learn how to play drums website” dan bermusik di bawah nama LLW (trio yang beranggotakan Sandy Winarta, Indra Lesmana dan Barry Likumahuwa). (Faa)

Showing 0 - 0 of 0 comments