BOGOR: Sebanyak 1.000 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) akan digratiskan biaya pendidikannya melalui beasiswa Bidik Misi hingga lulus.
"Tahun ini akan ada 1.000 mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebanyak 876 mahasiswa baru gratis masuk melalui Seleksi Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Jalur Undangan. Sisanya, sebanyak 124 akan diberikan pada mahasiswa baru yang masuk melalui SNMPTN Tertulis dan Ujian Talenta Masuk IPB," papar Direktur Kemahasiswaan IPB, Dr.Rimbawan, Sabtu(16/6) di Kampus IPB Darmaga.
IPB juga menyediakan beasiswa dari berbagai sumber untuk 127 mahasiswa baru kurang mampu yang tidak mendapat beasiswa Bidik Misi.
"Bagi mahasiswa kurang mampu namun tidak mendapat beasiswa Bidik Misi, jangan khawatir, IPB telah menyediakan beasiswa dari alumni, pengusaha, dan perusahaan swasta untuk meringankan biaya pendidikan selama di IPB. Silakan mengajukan lamaran ditujukan ke Direktorat Kemahasiswaan IPB," lanjut Dr.Rimbawan.
Pada tahun 2011, IPB memperoleh beasiswa sebanyak Rp 60 milyar dari berbagai donatur.
Juliana, mahasiswa Departemen Ilmu Gizi, IPB mengungkapkan rasa bahagianya kala dia dinyatakan memperoleh beasiswa Bidik Misi. "Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kuliah, terima kasih IPB telah memberikan kesempatan sangat berharga ini pada saya," kata Juli. Berbekal ongkos Rp 600.000 pemberian guru-guru sekolahnya, Juli datang dari Pati ke Bogor sendiri tanpa ditemani kedua orangtuanya.
Juliana mengisahkan perjalanan hidupnya. Ayah kandung Juliana meninggalkan ibunya begitu saja ketika adiknya berusia 7 bulan. Sejak kepergian ayahnya, kehidupan ekonomi keluarganya yang tadinya mapan, tiba-tiba berubah drastis. Adiknya terpaksa dititipkan dan dibesarkan saudara ibunya. Sedangkan Juliana tinggal dengan neneknya.
Pada saat Juliana duduk di bangku sekolah kelas 3 SMP, saudara ibunya sakit liver dan meninggal dunia. Ibunya kemudian mengambil dan merawat adiknya. Ibunya menikah lagi saat Juliana duduk di bangku sekolah kelas 1 SMA.
Kini ibunya bekerja sebagai pengupas kacang, sementara ayah tirinya bekerja sebagai sopir dengan penghasilan sekitar Rp 500.000. Itu pun tidak tentu.
"Ibu bekerja mengupas kacang sampai tangannya melepuh. Setiap mengupas satu karung kacang, Ibu dibayar Rp 20.000," tutur alumni SMA 1 Tayu Pati, Jawa Tengah dengan mata berkaca-kaca.
Dengan pendapatan minim, kedua orangtuanya harus menanggung dirinya, adiknya dan sepupunya. Makan sehari-hari pun seadanya. Kadang sehari makan dua kali dengan lauk krupuk atau garam saja.
Untuk membantu biaya sekolah, sepulang sekolah Juliana mengajar Pramuka dan mengaji dengan penghasilan Rp 60.000 per bulan. Selain itu, dengan dibantu modal dari temannya, Juliana jualan pulsa elektrik.
Ditanya alasannya memilih IPB, Juliana mengatakan sejak dulu dia sangat ingin masuk IPB, karena mendengar IPB sangat peduli terhadap mahasiswa yang kurang mampu. "Dari informasi kakak kelas saya di IPB banyak tersedia beasiswa untuk orang kurang mampu seperti saya. Saya juga mendengar IPB sangat peduli dengan kondisi ekonomi mahasiswanya," tandasnya. (faa)
ARTIKEL MENARIK LAINNYA >>>
- EURO 2012: PORTUGAL And NETHERLANDS Need To Win To Advance
- OBITUARI: OM LIEM & Mochtar Riady Dirikan BCA Dalam 4 Jam
- TIGER WOODS Shares Lead Heading Into US Open Weekend Play
- EURO 2012: Hasil Dan Prediksi Pertandingan Babak Penyisihan
- INDONESIAN IDOL 2012: Malam Terakhir Sean Atau Yoda?
- WHO's Cancer Agency: Diesel Fumes Cause Cancer
- PEKAN RAYA JAKARTA: The Body Shop Beri Diskon Hingga 50%
- RUTE SOLO-KL Mau Dihapus, JOKOWI Rayu Air Asia
- DAHLAN ISKAN: Negosiasi Ulang Kontrak Pertambangan Jalan Terbaik
- MUSIK ONLINE—Tantang Apple, Amazon Mulai Layanan Cloud Musik
Showing 1 - 5 of 21 comments